Selasa, 03 Juni 2008

DIRECT AND INDIRECT COOMB'S TEST

ANTIGLUBULIN TEST

1945 Mourant, Coombs & Race ® pemeriksaan untuk mendeteksi Ab yang tidak mengaglutinasi / Ab yang menyelimuti sdm dalam serum.

Pemeriksaan yang sama dipergunakan untuk memperlihatkan coated cells (penyelubungan sdm) invivo dengan Ab & Kompls ® dinamakan antiglobulin test.
Antiglobulin test 2 macam, yaitu :
1. Direct antiglobulin test (DAT)
2. Indirect antiglobulin test (IAT)

DAT ® untuk mendeteksi Ab / komplemen yang menyelimuti seldm invivo, misal auto immune hemolytic anemia (AIHA), drug induced hemolytic disease of the newborn (HDN), allo immune reaction karena reaksi transfusi.

IAT ® untuk mendeteksi reaksi antara sdm & coating Ab, misal deteksi Ab, identify Ab, golongan darah, uji cocok serasi.

Prinsip Antiglobulin Test

Antiglobulin test didasarkan pada prinsip sebagai berikut :
1. Molekul Ab & komplemen termasuk golongan globulin.
2. Globulin asal manusia disuntikkan pada binatang ® menstimulasi binatang ® Ab terhadap protein asing ® globulin manusia Ab yang terbentuk ® Anti human globulin (AHG).
Serum binatang diadsorbsi untuk menyingkirkan Ab lain yang tidak diinginkan ® bereaksi spesifik dengan human globulin.
3. AHG bereaksi dengan molekul globulin manusia baik yang berikatan pada adm / yang bebas dalam serum / plasma.
Globulin yang bebas dalam serum / plasma bereaksi dan menetralisir AHG yang ditambahkan kedalam tabung pemeriksaan yang mengandung sdm yang diselubungi oleh molekul globulin bebas. Globulin bebas dapat menetralisir AHG dan mengakibatkan hasil ® neg palsu, kec bila sdm dicuci sampai tidak mengandung globulin bebas lagi.
4. Sdm yang telah dicuci dan yang diselubungi oleh globulin manusia akan diaglutinasi oleh AHG. Fab portion molekul AHG bereaksi dengan Fc portion dari 2 molekul Ab yang menyelubungi 2 sdm yang terpisah. Sdm yang tidak diselubungi tidak akan diaglutinasi.
Abb. 10. Moderne Schematische Darstellung und Foto der Antigen-Antikorper-Reaktion nach Zugabe von Antihumanglobulin serum
Abb. 8. Schematische Darstellung eines IgG-Anti-korpermolekuls

Pemeriksaan serologi menggunakan berbagai macam reagen AHG yang reaktif dengan berbagai macam human glob, misal anti–IgG, Ab terhadap komplemen C3d. reagen AHG polysp ® anti – IgG dan anti C3d.


Reagen AHG

Reag Polysp AHG

Digunakan untuk pemeriksaan uji cocok serasi rutin, skrining, identifikasi Ab, DCT. Polysp AHG mengandung Ab terhadap IgG manusia dan komplemen C3d dari komplemen manusia. Ab anti – complemen yang lain dalam polysp AHG, misal anti – C3b, anti – C4b, anti C4d.

Ab yang mempunyai arti klinis ® tipe IgG, fungsi AHG ® mendeteksi IgG dan distandarisasikan untuk mendeteksi macam-macam tipe IgG Ab.

Aktifitas anti – C3d ® komplemen yang sangat penting dalam pemeriksaan DCT untuk AIHA.

Macam-macam AHG :

1) Monospecifik AHG (rabbit dan murine monoclonal) tediri dari rabbit anti human IgG dan mouse monoclonal anti C3b dan anti C3d.
2) Polysp AHG (murine monoclonal) terdiri dari Ab yang disekresikan oleh 3 macam cell lines dari berbagai spesifikasi anti – IgG, anti C3b dan anti C3d.

Reag Anti – IgG

Reag AHG berlabel anti-IgG tidak mengandung anti–komplemen. Anti–IgG sebagian besar dipergunakan sebagai alternatif terhadap AHG pemeriksaan Ab dan uji cocok serasi.
Ada petugas lebih senang menggunakan monospes dengan komplemen yang melekat pada sdm akibat auto Ab yang reaktif pada suhu dingin ® secara klinis tidak berarti, misal anti-I.
Reag Monospes AHG

Ab monospes terhadap human glob dibuat dengan menyuntikkan binatang dengan ummuno reagents seperti, IgG, IgA, IgM, C3 / C4. Serum membutuhkan adsorpsi untuk menghilangkan Ab yang tidak diinginkan dan memastikan kemurnian reag monospes tersebut.

Reag monospes AHG ® menentukan Ab yang memberikan hasil pos pada pemeriksaan DAT dengan polyspes AHG.

Anti–IgG (heavy chains) dan anti–C3d digunakan pada pemeriksaan IAT ® membedakan gambaran reaktivitas yang dihasilkan bila serum mengandung Ab dengan complemen binding / non complemen binding, seperti anti–Le (a) dan anti–E.

5. Sedimen sel tambahkan 2 tetes CS, putar 1000 rpm 1 menit. Baca hasil reaksinya.

Faktor Yang Mempengaruhi Sensitivitas IAT

Faktor yang mempengaruhi perlekatan Ab pada sdm invitro :

1. Temperatur
- Sdm dan serum diinkubasi pada suhi 370 C. Ab yang menyelubungi sdm yang klinis sangat berarti bereaksi secara optimal pada temperatur 370 C.
- Inkubasi temperatur lebih rendah dari 370 C mengurangi kecepatan assosiasi Ag dan Ab.
- Inkubasi diatas 370 C dapat merusak sdm / molekul Ab.

2. Ionic Strength
Sdm dapat disuspensikan kedalam berbagai media misal dalam lar saline fisiologis, lar albumin, LISS dan reag additive seperti polyethylene glycol (PEG)/hexadimethrine bromide (polybrene).

Dalam cairan isotonik, Na ion dan Cl ion bergerombol sekeliling sel dan sebagian menetralisir muatan yang berseberangan pada Ag dan molekul Ab. Effek penyelubungan ini yang merintangi assosiasi Ab dengan Ag dan dapat dikurangi dengan cara mengurangi ionic strength dari media reaksi.

Konsekuensi menurunkan konsentrasi garam dari media reaksi ® meningkatkan Ab yang melekat pada sdm. Penggunaan albumin kec bila digunakan dibawah kondisi ion yang rendah juga dapat melakukan perlekatan molekul Ab.



3. Proporsi Serum Terhadap Sel
Meningkatkan perbandingan serum dengan sdm dapat meningkatkan derajat Ab yang menyelimuti sdm. Perbandingan yang umum ® 2 tts serum terhadap 1 tetes suspensi sdm 2 – 5 %. Alternatif mengurangi suspensi sdm dari 5 % ® 2 – 3 % dapat melipat gandakan perbandingan serum terhadap sel.

Dengan meningkatkan ratio serum terhadap sel dapat mendeteksi Ab yang bereaksi lemah yang tidak terdeteksi dibawah suspensi normal sdm.

4. Waktu Inkubasi
Tehnik albumin waktu inkubasi 15 – 30 menit suhu 370 C ® waktu yang adekwat untuk mendeteksi Ab yang menyelimuti sdm yang secara klinis berarti. Ab yang bereaksi lemah, reaksi Ag Ab tidak dapat mencapai keseimbangan dalam waktu inkubasi selama 30 menit dan dengan memperpanjang waktu inkubasi dapat membuktikan keberadaannya.

Sumber Kesalahan

Hasil False Neg pada DAT dan IAT

1. Tidak mencuci sdm dengan bersih dan baik ® hasil pemeriksaan false neg, karena glob yang bebas yang tidak mengadakan ikatan dengan sel akan menetralisir AHG.
2. Reaksi false neg dapat terjadi ® pemeriksaan terganggu atau tertunda.
Pelaksanaan proses pencucian harus dilakukan secepat mungkin untuk mengurangi kehilangan Ab yang terlepas dari sel.
AHG harus ditambahkan segera setelah proses pencucian selesai ® Ab yang telah mengadakan ikatan akan terlepas kembali.
Setelah AHG ditambahkan harus segera diputar dan dibaca, karena reaksi IgG yang menyelimuti sdm akan melemah setelah inkubasi.
3. Reag kehilangan reaktivitas ® penyimpanan tidak baik, kontaminasi bakteri / serum manusia. Penyimpanan AHG dianjurkan pada 2 – 80 C, jangan dibekukan, bila warna berubah tidak digunakan lagi.
AHG mengalami netralisasi bila terkontaminasi dengan serum manusia / anti–D sera. Hal ini tidak terlihat dengan mata (makroskopis) tetapi terlihat bila diperiksa dengan CCC, hasil reaksi yang seharusnya pos menjadi neg.
4. Tidak ada AHG pada pemeriksaan, atau lupa menambahkan AHG. Hal ini dapat dicegah dengan memakai AHG yang berwarna.
5. Penggunaan centrifugasi yang tidak baik
Centrifugasi yang lambat keadaan menjadi tidak optimal untuk aglutinasi, sebaliknya centrifugasi yang terlalu kuat memadatkan sel, sehingga sel sukar untuk terurai.
6. Jumlah sdm yang ada pada pemeriksaan mempengaruhi reaktivitas. Reaksi yang lemah ® terlalu banyak sdm, sebaliknya sdm yang terlalu sedikit menyulitkan pembacaan aglutinasi dengan baik.
7. Reaksi prozone sebagai kemungkinan penyebab pemeriksaan antiglobulin tidak reaktif.


Hasil False Pos pada DAT dan IAT

1. Sdm sudah dicentrifugasi sebelum dilakukan pencucian. Apabila tidak terlihat ® aglutinasi yang tampak setelah penambahan AHG dapat disalah interpretasikan pembacaannya sebagai akibat perselubungan IgG / komplemen.
Sdm penderita cold react auto Ab yang kuat beraglutinasi pada contoh darah yang disimpan pada suhu kamar atau dibawah suhu kamar.
2. Tabulasi gelas yang tidak bersih terkontaminasi dengan debu, detergent / material lain yang menyebabkan sdm menggumpal / aggregasi.
3. Over centrifugation dapat memadatkan sdm ® aggregasi ® disalah artikan dengan aglutinasi.
4. Reag yang dibuat tidak baik dan dapat mengandung Ab yang mengakibatkan aglutinasi pada sel yang tidak diselubungi. Enzyme treated red blood cells dapat meningkatkan reaktivitas dengan antispecies Ab dan dapat bereaksi langsung dengan reag AHG yang mengandung kontaminasi aktivitas.

False Pos Pada DAT

1. Komponen komplemen C4 dapat melekat pada sdm ® menggunakan contoh darah beku yang berasal dari segmen dana dalam CPD – A1 yang disimpan 40 C / pada suhu kamar. Terjadi karena aktivitas cold auto Agglutinin alamiah yang sering terdapat pada serum normal mengakibatkan false pos pada AHG yang mengandung anti – komplemen.
2. False pos DAT dengan contoh darah yang diambil dalam tabulasi yang mengandung silicone gel.
3. Contoh darah yang diambil dari selang infus 5 % / 10 % dextrose dapat mengandung komplemen pada sdmnya.
4. Kontaminasi bakteri pada contoh darah dapat mengakibatkan DAT pos.

False Pos Pada IAT

DAT pos ® IAT pos untuk semua sera. Sdm yang diselubungi IgG sulit untuk diperiksa golongan darahnya ® menghilangkan IgG dari sdm dapat menggunakan heat treating atau chloroquine.

Sabtu, 10 Mei 2008

KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA RS

KEBUTUHAN SARANA, PRASARANA, SDM UNTUK UTD RS PENDIDIKAN
DENGAN KEBUTUHAN DARAH 2000 KANTONG S/D 5000 KANTONG PER BULAN

Kebutuhan sarana dan prasarana terlampir.
SDM merupakan masalah pokok yang tidak mungkin untuk ditunda, mengingat semua tenaga teknis dan sebagian tenaga administrasi yang ada sekarang adalah milik UTD PMI. Kebutuhan SDM adalah sebagai berikut :
1. Petugas administrasi : 2 orang
2. TTD : 15 orang
3. Pekarya : 1 orang
4. Petugas transport : 2 orang


RENCANA ANGGARAN
Kegiatan Anggaran
Rapat-rapat kordinasi di Depkes, RS dan dengan UTD PMI Rp. 5.000.000,-
Renovasi gedung (menempati lokasi baru) Rp. 600.000.000,-
Pengadaan sarana dan prasarana (terlampir) termasuk Rp. 4.698.828.100,-
sistem informasi
Pengadaan/ pembuatan SOP dan format pelayanan Rp. 5.000.000,-
serta format pelaporan
JUMLAH Rp. 5.308.828.100,-

Rabu, 07 Mei 2008

SPESIFIKASI ALAT BDRS

Spesifikasi dan Kegunaan alat

1. Blood Bank Refrigerator
Kegunaan alat ini untuk menyimpan darah dan komponen darah dalam bentuk cair.

Spesifikasi Alat :
• Complete with accessories :
1) Key operate power switch
2) Safety lock on dor for controlled accsess
3) Digital display
4) Audible and visual alarm
5) Safety thermostat +2°C
6) Remote transmission alarm signal
7) Alarm system with 48 hour backup power supply in case of a power failure
8) Alarm history with stores all important value occurring as of temperature during the alarm period and also its duration
9) Forced-air refrigeration for equal temperature distribution
10) Auto diagnostic control
11) Door opening alarm
12) Internal temperature display in case of power failure
13) Ambient temperature : +10 to +43°C
14) Alarm function test
15) Automatic door closing
16) Stainless steel interior
17) Castors for flexibility of movement
· Indoor lamp
· Wheel for mobile
· Temperature setting : 4°C ± 2°C
· Model : Glass Door / Showcase
· Capacity : 408 ℓ
· Electrical : 220 – 240 V, 50/60 Hz single phase
· Set point : 4°C
· Noise level : ≤ 60 dBA
· CFC –and HCFC- free
· Instruction manual lengkap dengan Troubleshoting berbahasa Inggris dan Indonesia
· Sirkuit electronic
· Daftar Catalog Number




2. Platelet Agitator with Incubator
Alat ini untuk menyimpaan Trombosit Konsentrat dengan suhu terkontrol
Spesifikasi :
• Complete with accessories :
1. Merk : Helmer
2. Model Number : PF 48i
3. Type : Flat bed
4. Agitasi : Horisontal
5. Capacity : 48 kantong
6. Electrical : 220 – 240 V, 50/60 Hz single phase
7. Ambient Operating temperature : +5°C to +35°C
8. Agitation speed (230V) per minute : 60
9. Dilengkapi alarm
· Instruction manual lengkap dengan Troubleshoting berbahasa Inggris dan Indonesia
· Sirkuit electronic
· Daftar Catalog Number
· CFC –and HCFC- free
· Set temperature +22°C ± 2°C

3. Serofuge ( Sentrifuge Serologis ) :
a. Untuk memisahkan serum / plasma
b. Untuk pemeriksaan Crossmatching ( Uji cocok serasi )
Spesifikasi Alat
• Complete with accessories :
1. Speed : 3000 rpm
2. Timer : 1 detik- 60 menit
3. Capacity : 12 tube ( 12 x 75 mm )
4. Electrical : Single phase, 220 V, 50/60 Hz
5. Drive : Brushless Induction
6. Control : Mikroprosesor
7. LCD Display
8. Door interlock
• Merk : DiaCent-12
• Acceleration tolerance : 1%
• Centrifugation time tolerance : ± 1%
• Acceleration : 1006 g
• Noise : <>

BANK DARAH RUMAH SAKIT

BANK DARAH RUMAH SAKIT

Definisi Bank Darah Rumah Sakit adalah : Bank Darah Rumah Sakit yang didirikan dan dikelola oleh Rumah Sakit yang berkewajiban menyimpan darah yang telah diuji saring oleh UTD PMI dan melakukan uji cocok serasi berdasarkan perjanjian kerjasama antara UTD PMI dan Rumah Sakit.

Bank Darah Rumah Sakit berfungsi menyimpan darah dan mengeluarkannya bagi pasien yang memerlukan darah di rumah sakit yang bersangkutan. PMI berkewajiban membantu pendirian Bank Darah Rumah Sakit yang dikelola oleh Rumah Sakit.

Bank Darah Rumah Sakit bertugas :
1. Menerima darah yang sudah diuji saring dari UTDC PMI terdekat secara teratur.
2. Menyimpan darah.
3. Melakukan uji cocok serasi darah donor dan darah pasien.
4. Menyerahkan darah yang cocok bagi pasien di Rumah Sakit tersebut.
5. Melacak penyebab reaksi transfusi yang dilaporkan Rumah Sakit.
6. Melaksanakan pemusnahan darah transfusi yang tidak layak pakai, sesuai ketentuan.

Persyaratan ketenagaan yang dibutuhkan adalah :
1. Penanggung jawab BDRS, satu orang dokter umum / spesialis.
2. Paramedis Teknologi Transfusi Darah (PTTD), empat orang, 3 shift.
3. Pekarya, satu orang.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah :
1. Kriteria Pembentukan Bank Darah Rumah Sakit
a. Ada kebutuhan darah.
b. Ada UTD setempat dengan jarak > 5 km dari Rumah Sakit.
c. Jika belum ada UTD di Daerah / Kabupaten tersebut, maka dapat dibentuk UTD Rumah Sakit.
d. Pendirian Bank Darah Rumah Sakit atas kesepakatan tim yang terdiri dari personal Rumah Sakit, UTD PMI setempat dan Dinas Kesehatan setempat setelah diadakan pengkajian terlebih dahulu dan dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
e. Tersedia ruangan dengan : - Luas minimal 4 x 5 m2
- Air bersih yang cukup dengan sistim pembuangan limbah yang baik.
- Listrik yang berkekuatan minimal 6500 Watt dan diesel / pembangkit listrik dalam keadaan darurat.
- Telepon.
f. UTD PMI menyediakan :
- Darah yang cukup untuk kebutuhan Rumah Sakit.
- Alat-alat Laboratorium (SK Permenkes 478 pasal 15 ayat 12 tahun 1990).
- Reagensia
- Formulir-formulir.

2. Pembiayaan
- Tenaga ATD/PTTD/Analis terlatih di bidang Transfusi Darah dibayar oleh Rumah Sakit yang bersangkutan.
- Biaya Penggantian Pengolahan Darah (BPPD)/Service cost dibebankan pada pihak Rumah Sakit yang bersangkutan.
- Besarnya biaya service cost ditetapkan oleh Pengurus Pusat PMI yang diketahui oleh Dinas Kesehatan setempat.
- Prosedur penagihan service cost mengikuti petunjuk dari UTD PMI setempat yang mengirimkan darahnya.

3. Pendidikan dan Pelatihan
- Untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dalam penyimpanan, pengolahan dan distribusi darah, Rumah Sakit dapat mengirimkan tenaga ATD/PTTD/Analisnya untuk mengikuti penataran/kursus yang diadakan oleh PMI.
- PMI memberikan bimbingan dalam bidang pengetahuan tentang Penyimpanan, Pengolahan dan Distribusi darah.

4. Penelitian dan Pengembangan
PMI dan Rumah Sakit dapat melakukan penelitian dan pengembangan bersama dalam bidang Transfusi Darah.

5. Pelaporan
BDRS berkewajiban melakukan pembuatan laporan bulanan kepada UTD PMI tentang setiap kegiatan di Bank darah yang bersangkutan, meliputi :
- Kebutuhan, penerimaan dan pemakaian darah
- Reaksi transfusi
- Pemakaian reagnesia
- Pemakaian alat-alat dll.

6. Pengawasan
Pengawasan / Audit teknis pelayanan darah secara periodik dilakukan oleh tim yang terdiri dari personal Rumah Sakit, UTD PMI setempat dan Dinas Kesehatan setempat. Laporan audit teknis disampaikan pada Kepala Rumah Sakit, Kepala UTD setempat dan Kepala Dinas Kesehatan setempat.


7. Peralatan standar yang dibutuhkan :
- Gunting Stainless
- Tempat klem & gunting
- Rak Tabung 24 lb Stainless
- Tabung reaksi uk. 12 x 75
- Mikroskope Binokulair
- Blood Bank Kapasitas 150 kantong
- Electric sealer
- Hand Sealer
- Medical Refrigerator
- Centrifuge (Serofuge)
- Set peralatan Cross Gel Test ( jika cross test menggunakan metode gel )
- Waterbath / Incubator
- Rotator (untuk pemeriksaan sifilis)
- Micropipet
- Timer Bel
- Agitator Trombosit (untuk menyimpan trombosit) – harga tergantung saat permintaan.
Standard Equipment of Hospital Blood Bank Class A / B
Package A :
1. Blood Bank (356 litre)
2. Medical Refrigerator
3. Freezer –30o C
4. Cool box (for blood transportation from Blood Bank to ward)
5. Thrombocyte storage (22o C)
6. Table top centrifuge (serofuge)
7. Satu set peralatan Cross Gel Test (*)
8. Waterbath
9. Microskope (Bionoculair)
10. Electric sealer
11. Hand Sealer

Package B :
1. Reaction tube 10 x 75 mm
2. Rack for tube 12 x 75
3. Viewing box
4. Clamp/kocher
5. Hand sealer
6. Scissors
7. Glass tile
8. Pasteur Pipette Object glass
9. Timer
10. Squeezing bottle
11. Plastic cup
12. Washbasin (enamel)
13. Bottle 5 cc with cap (for blood sample)
14. Lab-jas
15. Napkin

Package C :
1. Test sera anti-A,-B,-AB, -D @ 10 ml
2. Bovine albumin 22 % @ 10 ml
3. Coombs serum @ 10 ml
4. Saline 0,9 %
5. Marker (permanent) artline 70
6. Filter paper
7. Hand gloves
8. Resiguard 4,5 liter / Desinfectans

Package D :
1. Building 35 m2
2. Laboratory desk (4 m) + chair (3)
3. Office table (1) + Chair (1)
4. Filing cabinet
5. Filing holder
6. Personal computer with printer
7. Typewriter
8. Computer + Printer
9. Public sitting